Kamis, 27 Mei 2021

PEMETAAN TEORI VARIABEL KEPUASAN KERJA

DIMENSI

INDIKATOR

TEORI 1

TEORI 2

TEORI 3

1)      Pekerjaan itu sendiri

 

a.       Tugas yang menarik

b.      Kesempatan untuk belajar

c.       Kesempatan untuk menerima tanggung jawab

Menurut Luthans (2006:243) terdapat lima dimensi pekerjaan yang telah diidentifikasi untuk merepresentasikan karakteristik pekerjaan yang paling penting dimana karyawan memiliki respons afektif. Kelima dimensi tersebut adalah:

a.       Pekerjaan itu sendiri. Dalam hal di mana pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab.

b.      Gaji. Sejumlah upah yang diterima dan tingkat di mana hal ini bisa dipandang sebagai hal yang dianggap pantas dibandingakan dengan orang lain dalam organisasi.

c.       Kesempatan promosi. Kesempatan untuk maju dalam organisasi.

d.      Pengawasan. Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku.

e.       Rekan kerja. Tingkat di mana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara sosial.

 

(Fred Luthans. 2006. Perilaku Organisasi Edisi 10. Yogyakarta: ANDI. Halaman 243)

Smith, Kendal, dan Hulin menilai kepuasan kerja keseluruhan dengan mengggunakan: kepuasan terhadap pengawasan, kepuasan terhadap rekan kerja, kepuasan dengan pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap pembayaran, dan kepuasan terhadap promosi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Mutiara S. Panggabean. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bogor: Ghalia Indonesia. Halaman 132)

Kreitner dan Kinicki mengemukakan bahwa aspek-aspek kepuasan kerja yang relevan terdiri atas kepuasan terhadap pekerjaan, gaji, promosi, rekan kerja, dan penyelia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Mutiara S. Panggabean. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bogor: Ghalia Indonesia. Halaman 129)

2)      Gaji

a.       Sejumlah upah yang diterima

b.      Hal yang dianggap pantas

3)      Kesempatan promosi

 

a.       Kesempatan untuk maju dalam organisasi

4)      Pengawasan

 

a.       Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis

b.      Kemampuan penyelia untuk memberikan dukungan perilaku

5)      Rekan kerja

a.       Pandai secara teknis

b.      Memberikan dukungan sosial


Rabu, 26 Mei 2021

Teori Penghubung Tingkat Pendidikan Terhadap Kepuasan Kerja

 


 

1.      Schlutz & Schlutz mengatakan bahwa terdapat hubungan negatif kepuasan kerja dengan tingkat pendidikan. Terdapat indikasi bahwa karyawan dengan pendidikan lebih rendah pada umumnya lebih mengalami kepuasan sebab karyawan lulusan perguruan tinggi memiliki harapan-harapan lebih tinggi dalam pekerjaannya.

 

Sumber:

Natassia Ayudiarini, Pengaruh Iklim Organisasi dan Pengembangan Karir Terhadap Kepuasan Kerja, (Depok: Jurnal Universitas Gunadarma), p. 6

Sumber buku:

Schultz, P. Duane dan Sydney E. Schultz, 1990, Psychology and Industry Today: An Introduction to Industrial and Organizational Psychology, MAcMillan Publishing Co., New York.

 

2.      Semakin latar belakang pendidikan sesuai dengan keilmuannya dan keahliannya di bidangnya, maka semakin banyak kesempatan untuk mengembangkan karirnya sesuai profesi dimana terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan terakhir dan kepuasan kerja.

 

Sumber:

Sri Suartini dan Rina Marlina, Hubungan Faktor Demografi dan Kepuasan Kerja pada Profesi Dosen di Universitas Singaperbangsa Karawang, LPPM Universitas Singaperbangsa Karawang, Jurnal Solusi Vol. 5 No. 8, 2008, p. 16


3.      Harold E. Burt, mengemukakan tentang faktor-faktor yang menimbulkan kepuasan kerja yaitu:

a.       Faktor hubungan antar karyawan

1)      Hubungan antara manajer dengan karyawan

2)      Faktor fisik dan kondisi kerja

3)      Hubungan social diantara karyawan

4)      Sugesti dari teman sekerja

b.      Faktor individual, hubungan dengan:

1)      Sikap orang terhadap pekerjaan

2)      Usia orang dengan pekerjaan

3)      Jenis kelamin

c.       Faktor luas

1)      Keadaan keluarga karyawan

2)      Rekreasi

3)      Pendidikan

Sumber: Danang Sonyoto, Teori, Kuesioner, dan Proses Analisis Data Perilaku Organisasional, (Yogyakarta: CAPS, 2013), p. 15-16.

 

4.      Menurut Giwangkara (2002): “Penelitian menunjukkan bahwa terdapat suatu hubungan negatif antara taraf pendidikan dengan kepuasan. Latar belakang pendidikan yang tinggi merasa kurang puas dengan pekerjaannya dan pendapatannya, berbanding terbalik dengan mereka yang berpendidikan rendah”.

Sumber: Edy Wuryanto, Hubungan Lingkungan Kerja dan Karakteristik Individu dengan Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang, (Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan UI, 2010), Tesis, p. 15.

 

5.      Menurut Sondang P. Siagian, Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin orang mempunyai keinginan untuk menggunakan keterampilannya, sehingga mengakibatkan orang menjadi mudah tidak puas jika pengetahuan dan keterampilannya tidak optimal digunakan.

Sumber: Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012).

 

6.      Menurut Kadarisman, Education is one of the factors that influence employee job satisfaction. (Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan).

Sumber: Muh. Kadarisman, Analysis on Factors that Influence Job Satisfaction of Government Employees, (Journal of Administrative Science & Organization, January 2012, Volume 19, Number 1, ISSN 0854 - 3844, Accredited by DIKTI Kemendiknas RI No : 64a/DIKTI/Kep/201), p. 67