Kamis, 21 November 2013

EFISIENSI BELAJAR UNTUK MERAIH SUKSES STUDI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    PENGERTIAN EFISIENSI DILIHAT DARI UNSUR KEGIATAN DAN HASIL
Pengertian efisiensi menurut Sedarmayanti (2001:112) pada prinsipnya adalah perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh dengan kegiatan yang dilakukan. Bekerja dengan efisien adalah bekerja dengan gerakan, usaha, waktu dan kelelahan yang sedikit mungkin. Dengan menggunakan cara kerja yang sederhana, penggunaan cara yang dapat membantu mempercepat penyelesaian tugas serta menghemat gerak dan tenaga, maka seseorang dapat dikatakan bekerja dengan efisien dan memperoleh hasil yang memuaskan. Tujuan utama hal tesebut adalah untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pembelajaran seorang siswa Dalam pelaksanaan suatu pembelajaran sering dijumpai kendala-kendala yang dapat mempengaruhi kelancaran aktivitas belajar siswa. Diantaranya dapat berupa sistem, prosedur atau cara kerja yang kurang efisien dalam melaksanakan pembelajaran itu sendiri. Banyak yang memiliki modal dan tenaga kerja pendidik yang lengkap tetapi tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan semula. Hal ini dapat terjadi karena kurang baiknya pelaksanaan penerapan kegiatan belajar terhadap siswa-siswa tersebut.
Oleh karena itu jika seorang pendidik yang ingin mencapai tujuan dan hasil yang memuaskan harus mampu melalui penerapan cara belajar dengan tepat, sesuai standartisasi dan pembelajaran dengan tepat. Sumber utama efisiensi sebenarnya ada dalam diri individu masing-masing siswa, karena dengan akal pikiran dan pengetahuan yang ada, serang pendidik mampu menciptakan cara belajar yang efisien terhadap siswanya untuk meraih kesuksesan. Unsur- unsur efisien itu antara lain kesadaran, keterampilan atau skill, disiplin yang dimiliki oleh pendidik serta kerja sama yang baik antara pegawai dengan ruang lingkup pekerjaannya. Namun untuk lebih meningkatkan jiwa efisiensi dalam diri tiap siswa yang dijadikan pengamatan, maka dibuatlah peraturan yang mengikat yaitu berupa penerapan tata cara pembelajaran yang efisien di sekolah. Jika penerapan tata pembelajaran telah diterapkan maka diharapkan setiap pendidik wajib mematuhi tata cara yang sekolah canangkan tersebut, karena jika suatu peraturan yang telah disepakati dilanggar maka akan dikenakan sanksi.
Efisiensi itu sendiri merupakan suatu usaha untuk memberantas pemborosan bahan dan tenaga kerja seorang pendidik maupun gejala-gejala yang merugikan sekolah. Menurut Achmad (2007), efisensi artinya perbandingan terbaik antara usaha yang telah dikorbankan dengan hasil yang dicapai. Pengertian efisiensi pada prinsipnya merupakan perbandingan terbaik atau rasionalitas antara hasil yang diperoleh (Output) dengan kegiatan yang dilakukan serta sumber-sumber dan waktu yang dipergunakan (Input). Salah satu dimensi penting dalam sebuah lembaga adalah adanya tata kerja yang teratur, terencana, dan tersusun dengan rapi agar memudahkan dalam pengawasan dan monitoring terhadap hasil yang telah dicapai dan tercipta suatu efisiensi dalam melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan.
Salah satu konsep pengetahuan yang perlu dipahami oleh seorang guru adalah efisiensi, pendekatan dan metode belajar. Banyak yang tidak paham perbedaan antara efisiensi, pendekatan dan metode belajar. Efisiensi adalah sebuah konsep yang mencerminkan perbandingan terbaik antara usaha dengan hasilnya. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diakukan secara efektif dan efisien.

B.     EFISIENSI DIRI, EFISIENSI KERJA DAN EFISIENSI BELAJAR
Terbagi dari pengertian efisiensi belajar dalam meraih kesuksesan studi siswa terdiri dari tiga macam efisiensi diataranya adalah efisiensi diri, efisiensi kerja dan efisiensi belajar. Efisiensi diri merupakan suatu prinsip dasar untuk melakukan kegiatan pribadi dari dalam diri sendiri untuk mendapatkan tujuan yang dicapai secara personal terhadap kesuksesan para siswa, usaha yang dilakukan seorang guru juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas belajar yang diharapkan semakin bagus. Efisiensi kerja merupakan suatu prinsip dasar untuk melakukan setiap kegiatan suatu organisasi dengan tujuan untuk dapat memperoleh hasil yang dikehendaki dengan usaha yang seminimal mungkin sesuai dengan standar yang ada. Usaha yang seminimal mungkin dikaitkan dalam hubungannya dengan pemakaian tenaga jasmani, pikiran, waktu, ruang, benda, dan uang. Dengan kata lain efisiensi kerja merupakan pelaksanaan cara-cara tertentu dengan tanpa mengurangi tujuannya dan merupakan cara yang termudah mengerjakannya, termurah biayanya, tersingkat waktunya, teringan bebannya, dan terpendek jaraknya. Kemudian yang dimaksud dengan efisiensi  belajar merupakan suatu prinsip dasar yang dipakai pendidik atau guru sebagai cara untuk diterapkan kepada siswanya agar kegiatan belajar mengajar yang dilakukan terlaksana dengan yang semestinya, sehingga siswa yang dijadikan objek pembelajaran mengikuti proses belajar yang diberikan secara efisien.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru di hadapkan pada siswa. Siswa yang di hadapi oleh guru rata-rata satu kelas yang terdiri dari empat puluhan orang, hal ini menunjukan betapa pentingnya keterampilan mengorganisasi siswa-siswa agar belajar, pembelajaran meningkatkan kemampuan-kemampuan koqnitif, afektif dan keterampilan siswa adalah suatu prasyarat teknis untuk dapat membelajarkan bahwa seorang pembelajar (guru) sudah bertindak belajar itu sendiri.
            Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain: melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan, atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara professional agar hasil yang dicapai dapat didapatkan secara efektif dan efisien.
Dari sini dapat dipahami dari keseluruan penjabaran diatas bahwa efisiensi adalah sebuah konsep yang mencerminkan perbandingan terbaik antara usaha dengan hasilnya. Efisiensi berarti pula melakukan segala sesuatu secara benar, tepat, akurat, dan mampu membandingkan antara cara kerja dari suatu pembelajaran yang ada.
Dalam konteks belajar, efisiensi mempunyai arti, meningkatkan kualitas belajar dan penguasaan materi belajar; mempersingkat waktu belajar; meningkatkan kemampuan guru, mengurangi biaya tanpa mengurangi kualitas belajar mengajar. Bagi suatu lembaga pendidikan, pengertian efisiensi tersebut tampaknya mengarah pada efisiensi yang memberikan arti peningkatan kemampuan guru dalam proses belajar-mengajar. Hal ini karena dalam proses belajar mengajar yang mementingkan hubungan peserta didik dan guru, guru menjadi pihak yang aktif.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    MOTIVASI DAN KETERATURAN SEBAGAI PANGKAL DARI EFISIENSI BELAJAR
1.      Motivasi Belajar sebagai Pangkal Belajar Efisien
Efektivitas dan efisiensi pembelajaran akan dapat diwujudkan oleh seorang guru apabila guru tersebut dapat memerankan perannya di dalam kelas dengan baik dan maksimal. Adapun peran penting seorang guru di dalam kelas adalah sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih. Hal ini sesuai dengan tugas guru itu sendiri yaitu mendidik dalam arti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup (afektif), mengajar dalam arti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan (kognitif), dan melatih dalam arti mengembangkan keterampilan para siswa (psikomotorik). (Sukadi, 2006:17).
Dalam mengembangkan tugas-tugas tersebut, setiap guru perlu melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan efektivitas pembelajaran. Adapun penulis berpandangan bahwa efektivitas pembelajaran adalah suatu kondisi dimana siswa dapat mengeluarkan segala potensinya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh setiap guru adalah membangun motivasi belajar para siswa. Motivasi belajar siswa yang tinggi akan merangsang siswa untuk mengembangkan potensinya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang efisien. Motivasi siswa tidak muncul begitu saja, tetapi harus dibangkitkan atau dibangun.
Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya dalam membangun motivasi belajar siswa untuk mencapai efektivitas pembelajaran. Upaya-upaya tersebut dapat dilakuakAn dengan cara sebagai berikut:
1.      Mengawali kegiatan belajar dengan suasana riang akan membuat siswa termotivasi untuk giat belajar dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
2.      Kerapkali di sekitar kita masih saja ada guru yang memperlakukan siswanya seperti seorang robot yang akan patuh dengan intruksi-intruksi formal dan baku. Hal ini tercermin dari kebiasaan buruk seorang guru yang memiliki konsep diri negatif, seperti suka memarahi siswa tanpa batas, berteriak dengan bahasa yang tidak layak, dan menghukum siswa melewati batas wajar. Perilaku-perilaku tersebut hendaknya dihentikan segera mungkin dan dikendalikan secara proporsional agar tidak menimbulkan adanya korban kekerasan di dalam dunia pendidikan.
3.      Menumbuhkan jiwa kompetesi kepada diri siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan persaingan di kelas seperti memberikan hadiah (reward) kepada siswa yang memiliki prestasi unggul. Hadiah tersebut dapat berupa materi seperti alat-alat tulis atau dapat bersifat ruhaniah seperti pemberian nilai lebih bagi siswa yang bersungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran. Ataupun bisa berupa  pujian kepda siswa yang rajin mengumpulkan tugas dan memberikan tepuk tangan teman-teman sekelas atas pujian Anda. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk lebih maju dan meningkatkan harga diri siswa dengan eksistensinya di dalam keals sehingga keberadaannya diakui dan dihargai oleh teman-temannya.
4.      Pada dasarnya manusia itu akan termotivasi saat menghadapi sebuah tantangan. Begitu pula pada diri siswa. Agar motivasi siswa terbangun maka dapat diciptakan dengan menyampaikan target pembelajaran. Sebelum pelajaran dimulali, guru dapat menyampaikan tujuan pembelajaran dan target yang harus dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
5.      Motivasi belajar sisiwa akan terpacu apabila ia mengetahui bahwa tes akan dilakukan setelah kegiatan pembelajaran
6.      Setiap siswa ingin pekerjaannya mendapat nilai terbaik. Namun kemampuan siswa setiap individu berbeda-beda. Ada yang langsung dapat menyelesaikan soal dengan cepat dan benar dan ada pula yang dapat mengerjakan soal dengan waktu yang tidak sebentar dan jawaban yang kurang tepat. Di sinilah peran guru untuk mendidik mereka agar tidak putus asa dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki pekerjaan mereka dengan tambahan waktu. Hal ini akan melatih mereka untuk terus bangkit dari setiap kegagalan dan terus memperbaiki kesalah menuju kesempurnaan
7.      Setiap manusia ingin dihormati dan dihargai oleh siapapun. Tak terkecuali pada diri siswa. Apabila guru sudah tidak menghargai siswa dengan menyebutkan kekurangan siswa di depan teman-teman atau dengan mengatakan perkataan “bodoh” kepada siswa, maka hal ini malah akan membuat siswa merasa tidak dihargai dan dan menimbulkan pertentangan batin di dalam diri sisiwa.
Oleh karena itu, dalam hal ini penulis menekankan agar setiap guru memahami kondisi psikologis setiap individu yang selalu ingin dihargai termasuk para siswa bahkan saat ia berbuat salah pun tetap ingin dihargai dan ditegakkan keadilan seadil-adilnya dalam hal pemberian hukuman.
Penghargaan seroang guru pun kepada siswa dapat berupa menjawab pertanyaan siswa dengan semaksimal kemampuan, mendengar permasalahan dan keluhan belajar mereka, menghargai kekurangan mereka, memahami kondisi mereka, dan melaksanakan tanggung jawab guru yang berdedikasi tinggi pada dunia pendidikan.
Agar motivsai belajar siswa terbangun, Sukadi (2006:44) mengungkapan ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya:
a.       Memberikan pujian dan penghargaan terhadap mereka sekecil apapun.
b.      Memperhatikan dan menanggapi gagasan, pikiran, pertanyaan, dan pendapat siswa dengan tulus.
c.       Mengenali nama-nama siswa dan kelebihan mereka untuk tujuan pembelajaran.
d.      Mau mengerti dan memahami kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran.
e.       Menghargai hasil pekerjaan siswa.
f.       Tidak menghina, menghardik, atau mencela siswa di depan umum (teman-temannya).
g.      Meluruskan siswa yang melakukan perlanggaran etika atau norma dengan cara-cara yang manusiawi (humanistik).
h.      Berkata dan bersikap sopan, ramah, dan penuh kasih sayang kepada siswa.
i.        Tempatkan siswa sebagai “orang penting”. Dengan cara ini kita akan melayani siswa secara optimal.
j.        Berlaku adil dalam perlakuan, penilaian, dan sikap terhadap siswa.
Apabila guru dapat membangun motivasi belajar siswa dengan baik dan berkelanjutan, maka secara perlahan tapi pasti, efektivitas dan efisiensi pembelajaran di dalam kelas dapat diwujudkan sehingga dapat menunjang hasil pembelajaran yang maksimal.
2.      Keteraturan Belajar sebagai Pangkal Belajar Efisien
Cara belajar yang efisien mengandung asas-asas tertentu yang tidak saja untuk dipahami melainkan lebih diterapkan dalam proses belajarnya. Asas adalah suatu dalil umum yang dapat diterapkan pada suatu rangkaian kegiatan untuk menjadi petunjuk dalam melakukan tindakan-tindakan.
Dalam belajar yang baik/cara belajar yang efektif efisien, yang menjadi pokok pangkal pertama ialah adanya suatu keteraturan, baik dalam belajar, mencatat ataupun menyimpan alat-alat perlengkapan untuk belajar.
Siswa harus teratur mengikuti pelajaran, membaca buku pelajaran, catatan pelajaran, dan alat perlengkapan untuk belajar harus dipelihara secara teratur. “Jika sifat keteraturan ini telah benar dihayati sehingga menjadi kebiasaan seseorang siswa dalam perbuatannya, maka sifat ini akan mempengaruhi jalan pikirannya. Sehingga keteraturan dalam belajar hendaknya tercermin dalam tindakan siswa setiap harinya” (The Liang Gie. 1984;89)
Salah satu masalah yang sering dihadapi siswa adalah kesukaran dalam mengatur waktu belajar. Seseorang yang ingin mencapai hasil belajar yang maksimal, di tuntut untuk pandai mengatur waktu dalam belajar. Banyak waktu yang terbuang sia-sia terurtama karena kebiasaan mengobrol atau bersantai. Sebaiknya membaca buku pelajaran yang belum dipahaminya dapat dimengerti. Agar perhatian siswa berpusat pada buku yang dibacanya dapat dengan cara memberi tanda-tanda pada kalimat yang penting agar dapat teringat dengan baik.
Oleh karena itu keteraturan belajar sangat penting agar ilmu pelajaran yang telah diperoleh tidak hilang, karena kemampuan otak dalam berpikir dan mengingat mempunyai keterbatasan. Sehingga dengan belajar secara teratur akan dihindari cara belajar dengan mendadak atau semalam suntuk. Siswa hendaknya jangan belajar sekaligus terlalu banyak, mulailah belajar teratur agar tujuan yang diinginkan tercapai.
Asas lain cara belajar yang baik ialah disiplin. Dengan jalan berdisiplin untuk melaksanakan pedoman-pedoman yang baik di dalam usaha belajar, barulah seseorang mempunyai cara belajar yang baik. Karena berdisiplin selain akan membuat seseorang memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik juga merupakan suatu proses kearah pembentukan watak yang baik yang akan menciptakan pribadi yang luhur. Dengan demikian cara belajar yang baik adalah suatu kecakapan yang dapat dimiliki seseorang dengan jalan latihan.
Setiap orang yang sedang menuntut ilmu kemudian harus melakukan konsentrasi dalam belajarnya, karena tanpa konsentrasi dalam belajarnya, tak mungkin berhasil menguasai   pelajaran  yang  diberikannya.   Konsentrasi   adalah   pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan menyampaikan semua hal lainnya yang tidak berhubungan.
Selain keteraturan, disiplin dan konsentrasi masih ada yang perlu dijadikan pedoman, yaitu perpustakaan, sebab tidak ada belajar yang dapat dilaksanakan tanpa bacaan dan gudang bacaan itu hanya terdapat dalam perpustakaan . Perlunya pemakaian kepustakaan sebab tidak ada belajar yang dapat dilaksanakan tanpa buku bacaan, minat baca untuk meningkatkan prestasi belajar.

B.     CARA MENGUASAI PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN (MEMBACA, MENULIS, MENCATAT BACAAN, MEMUSATKAN PERHATIAN, DAN BERFIKIR KREATIF)
1.      Cara Menguasai Pengetahuan dan Keterampilan dengan Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Hendry Guntur Tarigan 1979:7).
Membaca sangat berpengaruh penting terhadap perkembangan pengetahuan dan keterampilan kita. Dengan membaca, pengetahuan dan keterampilan kita bisa bertambah dan sebaliknya. Pertanyaan yang muncul membaca seperti apa yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga efisiensi belajar dapat tercapai.
Teknik yang dapat menunjang efisiensi belajar yaitu dengan membaca cepat. Membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaan.
Meningkatkan Kemampuan Membaca Cepat Melalui Teknik SQ3R
Pada umumnya orang tak sadar dengan masalah membacanya. Kebanyakan orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahaman. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari kecepatan dan pemahaman semula menurut (Nurhadi 2005: 17).
Soedarso (2002) menambahkan, dalam membaca cepat supaya siswa menghindari hambatan fisik seperti membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca, karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut mengantup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara. Untuk mengetahui apakah kita mengucapkan kata-kata itu atau tidak, terletakkan tangan di leher sementara membaca. Bila getaran terasa di jakun (gulu menjing), itu berarti kita membaca dengan bersuara. Sedangkan menggerakan bibir di saat membaca itu juga sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca suara ataupun dengan menggerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam.
Banyak orang menghadapi buku atau bacaannya dari awal sampai akhir dari membaca beranggapan bahwa dengan cara itu mereka pasti menguasai isi bacaan. Ternyata hal itu tidak benar. Untuk memahami suatu bacaan kita tidak cukup hanya membaca sekali saja, tetapi kita harus mengambil langkah-langkah yang strategis untuk menguasai bahan itu dan mengingatnya lebih lama. Jadi, usaha yang efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan cara: (1) mengorganisasikan bahan yang di baca dalam kaitan yang mudah dipahami dan (2) mengaitkan fakta yang satu dengan yang lain, atau dengan menghubungkan pengalaman atau konteks yang anda hadapi. Pemahaman atau komprehensip adalah kemampuan membaca untuk mengerti: ide pokok, detail yang penting, dan seluruh pengertian. Untuk pemahaman itu perlu: (1) menguasai perbendaharaan kata, (2) akrab dengan struktur dasar dalam penulisan (kalimat, paragraf, tata bahasa). Kemampuan tiap orang dalam memahami apa yang dibaca berbeda. Hal ini tergantung pada perbendaharaan kata yang dimiliki, minat, jangkauan mata, kecepatan interpretasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca, dan keluwesan mengatur kecepatan (Soedarso 2002:58)
Menurut (Soedarso 2002:14) sebagian karena tingkat kecerdasannya orang hanya mampu membaca 125 kpm (kata per menit). Pada umumnya, orang membaca jauh lebih lambat dari pada kemampuannya. Orang dewasa di Amerika yang belum pernah mendapat latihan khusus kecepatannya antara 200-500 kpm, beberapa orang sampai 325-350 kpm, dan beberapa orang yang terlalu lambat, yaitu 125-175 kpm. Orang dewasa Indonesia, seperti yang penulis catat berdasarkan kursus-kursus yang diadakan, keadaannya seperti di Amerika, yaitu 175-300 kpm. Akan tetapi, pada pertengahan kursus (minggu kedua), pada umumnya, dapat dinaikkan menjadi 350-500 kpm. Semua itu dengan pemahaman 70 persen. Bukti lain yang pernah ada ialah apa yang dilakukan (John A. Broyson dalam Nurhadi 2005:35) Ia melatih sejumlah 111 orang untuk ditingkatkan kecepatan membacanya. Pada awal latihan, kecepatan mereka pada mulanya berkisar antara 115-210 kata permenit, tetapi tiga bulan kemudian dengan latihan yang intensif, 52 orang mampu meningkatkan kecepatan membacanya menjadi 295-325 kata per menit (dua sampai tiga kali lipat)
Dalam membaca cepat kita harus benar-benar menyadari dan mau membaca cepat dan agresif untuk menyelesaikan bahan bacaan dan memaksakan diri untuk menambah kecepatan membaca. (Soedarso 2002:84) mengungkapkan selain itu jurus membaca yang sangat ampuh untuk mengukur kecepatan kita dalam membaca dan sangat efektif memberikan hasil seperti itu yaitu dengan skimming dan scanning. Jika kita tidak membutuhkan fakta dan detailnya, maka lompati fakta detail itu dan pusatkan perhatian untuk cepat menguasai ide pokoknya. Cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokoknya ini disebut skimming, sedangkan kita perlu melompati lainnya dan langsung ke sasaran yang kita cari itu di sebut scanning. Selain itu kita membuat ringkasan, mengambil intisari suatu bab, bagian, atau paragraf, kita akan menguasai ide yang di kandungnya. Catatan tidak boleh terlalu panjang atau terlalu banyak karena akan sulit mengaturnya, tetapi secukupnya sehingga membantu pemahaman kita.
Di dalam bukunya (Soedarso 2002:59) sejak lima puluh terakhir para ahli psikologi pendidikan telah menyelidiki cara-cara membaca yang efisien dan mengemukakan beberapa sistem salah satu yang banyak dikenal dan dipraktekkan orang adalah SQ3R. Secara umum sistem-sistem yang di kemukakan orang ahli itu memakai pendekatan sama yang membuata kita aktif dan bertujuan dalam menghadapi bacaan. Teknik-teknik yang diberikan dimaksudkan untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang mendukung ide pokok serta mengingatnya lebih lama. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh (Francis P. Robinson 1941) merupakan proses membaca yang terdiri dari lim langkah : survey, question, read, recite, review (SQ3R).
Dengan membaca menggunakan teknik SQ3R kita akan mudah dan cepat menangkap ide-ide pokok bacaan dengan cara mensurvei buku bacaan. Sehingga pembaca mengerti apa isi maksud yang terkandung dalam bacaan tersebut. Selain itu pembaca juga akan cepat menangkap gagasan bacaan itu dengan detail. Pada saat kita membaca bagian-bagian yang penting usahakan supaya diperlambat dalam kita membacanya dan jangan sampai saat membaca bagian yang penting atau bagian yang dianggap kita susah kita tandai dengan garis bawahi karena itu akan mempengaruhi kita dalam membaca cepat.
Selain itu dalam membaca teknik SQ3R manfaat lainnya kita menghemat waktu dalam membaca buku dan yang paling penting adalah hafal isi bacaan itu oleh karena itu di dalam teknik membaca SQ3R yang terakhir usahakan untuk menelusuri kembali judul-judul dan sub judul dan bagian-bagian penting yang perlu diingat kembali. Karena selain membaca data ingat dan akan memperjelas pemahaman kita dalam membaca. Sebab (Soedarso 2002:64) daya ingat kita terbatas, sekalipun pada waktu membaca 85 persen kita menguasai isi bacaan. Kemampuan kit dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40 persen dan dalam tempo dua minggu pemahaman kita tinggal 20 persen.
Membaca SQ3R adalah membaca yang efektif dan efisisen untuk memahami dan mengingat lebih lama. Membaca dengan metode SQ3R sangat baik untuk kepentingan membaca secara intensif dan rasional. Metode pembacaan studi ini dianjurkan oleh seorang guru besar psikologi dari Ohio State University, yaitu Prof, Francis P. Robinson dalam (A. Widyamartaya 1992:60).
Dengan metode membaca cepat melalui teknik SQ3R diharapakan proses belajar akan lebih efisien, sehingga ketrampilah dan pengetahuan kita kan lebih mudah diingat, dipahami, dan yang paling penting tidak mudah lupa terhadap pengetahuan yang baru dipelajari.

2.      Cara Menguasai Pengetahuan dan Keterampilan dengan Menulis
Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, orang tidak perlu menunggu menjadi penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk memraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi pelatihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.
      Oleh karenanya, perlu kita pelajari seberapa penting keterampilan menulis itu sendiri dan juga tahapan-tahapan yang perlu dilalui dalam kegiatan menulis terutama bagi pembelajar menulis.
Keterampilan menulis tidak hanya berguna untuk penulis, menulis merupakan keterampilan yang mendukung dalam proses belajar. Pertanyaan kali ini yang muncul adalah teknik menulis yang seperti apa yang dapat mendukung belajar terutama belajar yang efisien.
Kemampuan menulis dipengaruhi aspek kemampuan seseorang menggunakan bahasa dalam mengkomunikasikan gagasannya dalam bentuk tulisan. Dalam proses belajar kemampuan tersebut penting untuk dimiliki oleh orang yang sedang belajar. Mengapa demikian? Karena saat kita belajar, terkadang bahasa yang digunakan oleh buku atau pengajar tidak semuanya dapat kita pahami dengan mudah. Untuk itu, kita membutuhkan keterampilan menulis untuk dapat menuangkan gagasan yang kita dapat dengan bahasa khas kita sendiri, sehingga proses belajar akan leih mudah dan tentunya lebih efisien.
Seperti yang kita ketahui, pengetahuan akan lebih mudah dipahami apabila ada aksi langsung dalam menguasai pengetahuan tersebut. Dengan menulis, kita langsung bergerak dalam proses penyerapan ilmu baru yaitu dengan menuangkan kembali sesuai dengan pemahaman yang kita miliki dari ilmu tersebut. Pada saat menulis, kita melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan yaitu, memperhatikan, membaca, kemudian menuangkan dalam tulisan. Dengan kegiatan tersebut, maka akan dengan mudah pengetahuan dan keterampilan yang baru dapat kita kuasasi.

3.      Cara Menguasai Pengetahuan dan Keterampilan dengan Mencatat Bacaan
Mencatat bacaan merupakan ketrampilan yang penting untuk belajar dari mulai tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Catatan yang baik akan menjadi rekaman yang permanen untuk mendaftar poin-poin penting yang akan membantu kita memadukannya dalam tulisan atau perkataan kita sendiri. Catatan yang baik akan mengurangi resiko plagiat, serta membantu membedakan gagasan yang berasal dari kita sendiri atau dari orang lain, dan menggambarkan bagaimana perspektif kita terhadap gagasan tersebut.
Mencatat bacaan sangat penting dalam menunjang kita untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam bidang ilmu yang sedang kita pelajari. Berikut ini akan disampaikan bagaimana catatan dapat menunjang hal tersebut.
Catatan yang efektif membutuhkan:
1)      Pengenalan terhadap gagasan utama
2)      Identifikasi informasi apa yang relevan terhadap tugas kita
3)      Memiliki suatu sistem pencatatan yang bekerja untuk kita
4)      Mengurangi informasi menjadi catatan dan format diagram
5)      Jika memungkinkan menulis informasi itu ke dalam bahasa kita sendiri
6)      Merekam sumber informasi
Strategi Mencatat Bacaan
a.      Selektif dan sistematis
Tidak semua bacaan yang kita baca relevan dengan kebutuhan kita. Fikirkan tujuan kita membaca:
§  apakah kita membaca untuk memahami topik atau konsep secara umum?
§  Apakah kita membaca informasi tertentu yang berkaitan dengan topik atau tugas kita.
Sebelum memulai membuat catatan, bacalah teks secara cepat. Garisbawahi atau stabilo poin-poin utama dan informasi yang relevan dengan kebutuhan kita. Dengan mengingat tujuan kita membaca, bacalah secara hati-hati bagian tersebut dan buatlah catatan terpisah tentang apa yang kita baca.
b.      Mengidentifikasi tujuan dan fungsi dari sebuah teks
Kita ingin mencatat tentang sebagian atau keseluruhan tulisan, keduanya membutuhkan identifikasi tujuan utama dan fungsi dari sebuah teks agar pencatatan kita efektif dan efisien. Langkah-langkahnya adalah sbb:
§  Membaca juudul dan abstrak
§  Membaca pendahuluan atau halaman pertama
§  Skim (baca sekilas) tulisan untuk mengetahui bagaimana tulisan tersebut diorganisir
§  Baca grafik-grafik dan tebak maksud dari tulisan.
Tujuan kita adalah untuk mengidentifikasi informasi penting apa yang dapat disajikan oleh overview dari tulisan yang kita pilih untuk dibaca. Tanyakan ke diri kita sendiri, apakah tulisan tersebut memberikan informasi yang kita butuhkan, dan pada bagian mana informasi itu terletak dalam tulisan.
c.       Mengidentifikasi bagaimana informasi diorganisir
Kebanyakan teks menggunakan prinsip-prinsip pengorganisasian yang logis. Beberapa pengorganisasian yang umum adalah:
§  Gagasan lama ke gagasan baru
§  Langkah-langkah dalam suatu proses
§  Dari poin-poin yang terpenting ke poin yang kurang penting
§  Gagasan yang umum ke gagasan yang kurang popular
§  Gagasan yang sederhana ke gagasan yang kompleks
§  Gagasan umum ke gagasan khusus.
§  Bagian yang terbesar ke bagian yang terkecil dari sesuatu
§  Permasalahan dan penyelesaian
§  Penyebab dan hasil
d.      Memasukkan pemikiran kita
Ketika mencatat untuk suatu tugas, sangat bermanfaat untuk merekam pemikiran kita sepanjang waktu. Rekam pemikiran kita dalam sebuah kolom yang terpisah atau dalam sebuah tulisan yang berwarna yang berbeda.
§  Gagasan apa yang muncul setelah membaca informasi tersebut.
§  Bagaimana pemikiran kita agar dapat memanfaatkan informasi tersebut ke dalam tugas yang akan kita kerjakan

4.      Cara Menguasai Pengetahuan dan Keterampilan dengan Memusatkan Perhatian
Belajar efektif artinya cara belajar yang teratur, tuntas, berkesinambungan dan produktif yakni menghasilkan kepandaian, pengetahuan, keterampilan dan pembentukan sikap mental dan intelektual yang baik dan bertanggung jawab. Seorang pelajar yang belajarnya tidak teratur, tidak sungguh-sungguh, asal-asalan, waktunya tidak menentu, tidak tuntas, tidak terus-menerus, dan tidak berkesinambungan, baik di sekolah maupun di rumah berarti ia tidak membiasakan diri belajar efektif, sehingga sasaran belajar tidak tercapai. Sebaliknya, jika kita berusaha belajar secara teratur, tertib, disiplin, bersungguh-sungguh, tuntas, terus-menerus, produktif, dan berkesinambungan berarti telah mengembangkan kebiasaan belajar yang efektif. Dengan mengembangkan kebiasaan belajar efektif berarti hasil belajar yang diperoleh jelas efeknya, atau jelas hasilnya, yaitu berupa kepandaian, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan dan terbentuknya sikap mental yang baik, unggul dan bertanggung jawab.
Hal yang paling penting selain hal di atas yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah bagaimana kita bisa memusatkan perhatian kita terhadap hal-hal yang sedang kita pelajari. Intinya, kita dapat belajar efektif  dengan terlebih dahulu memusatkan perhatian kita pada sesuatu yang akan kita pelajari.
Bagaimana cara memusatkan perhatian sehingga kita bisa tertarik pada hal yang akan kita pelajari, berikut ini bebrapa cara yang dapat dilakukan:
1)      Munculkan Minat
Semakin kita tidak menyukai sesuatu baik itu pelajaran ataupun peristiwa bahkan seseorang semakin kita tidak peduli tentang sesuatu tersebut, jadi jika kita ingin berkonsentrasi terhadap apa yang kita hadapi, persiapkanlah diri untuk mengetahui banyak tentang apa yang kita hadapi tersebut, semakin banyak informasi yang kita dapatkan dari sesuatu yang tidak kita sukai, semakin banyak pula peluang kita memunculkan minat tentang sesuatu tersebut dan semakin kita dapat memusatkan perhatian kita kepada sesuatu tersebut.
Minat dapat kita tumbuhkan dalam diri kita ini dengan banyak belajar dan membaca mengenai pengetahuan yang tidak kita sukai tersebut, semakin banyak informasi yang kita dapatkan tentang yang tidak kita sukai, semakin banyak kemungkinan muncul minat kita terhadap sesuatu yang kita tidak sukai tersebut, mengapa seperti itu, karena sesuatu yang tidak kita sukai biasanya kita akan menutup diri ini untuk menerima informasi apapun dari sesuatu tersebut.
2)      Tingkatkan Sikap Disiplin Diri Sendiri
Seseorang yang sudah membiasakan dirinya ketika sudah berada di ruang kerja ataupun kantornya ia akan memfokuskan dirinya untuk konsentrasi terhadap pekerjaannya, akan membuat dirinya disiplin terhadap pekerjaannya, dengan begitu apapun masalah yang tidak ada hubungan dengan pekerjaannya dapat ia pilah terlebih dahulu, jika memang lebih penting pekerjaan, ia akan tetap dalam pekerjaannya.
Semakin disiplin kita mengatur diri kita sendiri, semakin kuat daya konsentrasi kita terhadap  apapun, karena akan terbiasa diri ini untuk tidak mencampur adukkan masalah satu dengan yang lain terlebih lagi jika tidak ada hubungannya dengan masalah yang sedang kita hadapi.
Termasuk jika kita ingin konsentrasi terhadap mata pelajaran yang ingin kita pelajari, belajarlah disiplin diri terlebih dahulu, dari hal kecil seperti sikap duduk waktu belajar,  ataupun sikap kita menghadapi pengajar kita, karena dengan begitu kita hanya mendidik diri sendiri untuk tidak memperdulikan apapun kecuali pelajaran yang kita akan terima, bahkan akan muncul sikap anda “ siapapun yang menasehati saya, bukan karena orangnya masih muda, ataupun tokoh terpandang yang nasehati saya, tapi karena isi nasehat itulah saya menurutinya”, jadi bukan memandang siapa yang mengucapkan nasehat itu, tapi karena isi nasehat itu yang kita praktekkan.
3)      Cari Lingkungan yang Mendukung
Semakin lingkungan kita mendukung terhadap apa yang kita pelajari semakin baik pemusatan pikiran kita terhadap apa yang kita pelajari. Jadi, cari lingkungan yang benar-benar mendukung kita untuk memusatkan konsentrasi terhadap apa yang ingin kita pelajari ataupun ingin kita ingat.
4)      Mengatur Kegiatan                 
Semakin teratur kegiatan yang kita lakukan, semakin cepat kita mengerjakannya, jadi apapun yang ingin kita konsentrasikan, terlebih dahulu aturlah waktu dengan jenis kegiatan dalam satu waktu, karena jika dalam satu waktu ada dua bahkan sampai tiga kegiatan sekaligus kita jalani, bisa dipastikan sulit kita berkonsentrasi terhadap kegiatan utama yang ingin kita selesaikan.

5.      Cara Menguasai Pengetahuan dan Keterampilan dengan Berfikir Kreatif
Generasi yang kritis dan kreatif merupakan sebuah keharusan untuk para siswa saat ini. Cara guru bisa lahirkan siswa yang kritis dan kreatif sebenarnya tidaklah sulit, asalkan guru senang mendengarkan aspirasi dan tidak alergi kritik. Generasi kritis dan kreatif lahir dari guru kreatif yang senang belajar dan haus akan perubahan. Jika guru senang akan perubahan, ia akan surprise, bahkan murid-muridnya jadi mau membantu dan kooperatif. Guru kreatif adalah guru yang berhasil memadukan cara mengajar yang menyenangkan dan target kurikulum yang tercapai.
Tapi ingat, kurikulum adalah peta dan bukan kitab suci, ia bisa dimodifikasi asal tujuan akhirnya sama. Kurikulum terbuka untuk ditafsirkan dan dipetakan, dan kini saatnya jadikan buku teks sebagai salah satu mitra dan rujukan. Buku teks bukan kurikulum, namun berisi penafsiran pembuatnya terhadap kurikulum. Guru juga bisa membuat indikator pembelajaran yang bervariasi dan beragam. Guru kreatif memiliki perencanaan pembelajaran yang baik, manajemen kelas yang mengutamakan komunikasi yang sehat dan rasa hormat.
Guru yang emosional sulit lahirkan siswa yang kritis dan kreatif, maklum murid akan lebih senang cari aman daripada jadi sasaran. Generasi yang kritis dan kreatif adalah generasi yang pandai berkomunikasi (offline dan online), sopan saat menyampaikan pendapat, mampu berpendapat dengan jernih, senang jika gurunya tampil kreatif di kelas, dan mengeluh jika selama pembelajaran cuma diminta mengerjakan buku teks oleh gurunya.
Dari uarain di atas telah disampaikan bagaiman peran guru dalam menciptakan siswa yang kreatif. Namun, tuntutan untuk kreatif tidak hanya harus dimiliki oleh guru dalam memberikan pengajaran pada siswa. Dengan pembelajaran kreatif guru, diharapkan siswa pu dapat berfikir kreatif dalam proses belajarnya. Sehingga dapat mendukung kegiatan belajar.
Guru yang kretif dalam mengajar akan menimbulkan KBM yang lebih kondusif, tidak menyebabkan siswa jenuh atau bosan, dan siswa lebih tertarik dalam belajar. Sedangkan untuk siswa atau pembelajar sendiri, berfikir kreatif sangat penting dalam proses belajar siswa itu sendiri. Dengan berfikir kreatif, seorang siswa dapat mengembangkan cara belajar yang menurutnya cocok dan dapat lebih cepat memahami materi yang dipelajari.

BAB III
PENUTUP

Dari uraian materi pada Bab 1 dan 2 dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.            Semakin sering kita belajar dan berlatih dalam waktu singkat akan lebih berhasil dari pada belajar dalam jangka waktu lama tapi hanya dilakukan satu kali saja.
2.            Pelajaran akan lebih cepat kita kuasai jika seluruh tubuh kita ikut aktif memahaminya
3.            Ketika suatu pengetahuan sudah dikuasai, lakukan berulang-ulang untuk menjadikan kebiasaan
4.            Hasil dari mempelajari ilmu akan berbeda-beda pada setiap orang
5.            Imu Pengetahuan akan cepat di kuasai jika kita sanggup menghubungi dengan ilmu pengetahuan lainnya
6.            Ilmu pengetahuan akan cepat anda kuasai jika anda mengetahui kemajuan menguasai ilmu tersebut
7.            Kecepatan anda menguasai pelajaran tergantung suasana dan kondisi anda serta lingkungan anda
8.            Kecepatan anda menguasai pengetahuan tergantung minat anda terhadap pengetahuan tersebut
9.            Kecepatan anda mengusai  ilmu atau keterampilan dipengaruhi dengan manfaat dari ilmu tersebut

                                                                                 



DAFTAR PUSTAKA

http://almuqontirin.blogspot.com/2013/04/makalah-peningkatan-kemampuan-membaca.html
http://www.infodaku.com/2012/01/cara-meningkatkan-konsentrasi.html
http://www.infodaku.com/2012/01/cara-menguasai-pelajaran.html

http://t3hermawan.wordpress.com/2008/10/26/ketrampilan-membuat-catatan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar