Jumat, 29 Maret 2013

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Pada hakekatnya manusia bisa dilihat sebagai makhluk pribadi dan disisi lain dipandang juga sebagai makhluk sosial. Paham individualism memandang bahwa manusia sebagai makhluk pribadi dengan mengesampingkan kodratnya sebagai makhluk sosial. Sebaliknya, pandangan sosialisme menyatakan manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk social maka manusia berinteraksi dangan manusia lain dalam wujud interaksi social.
Sebagai makhluk pribadi dan social manusia akan menghadapi dilema dalam kerangka pemenuhan kebutuhan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.
Sebagai makhluk sosial, maka manusia akan berinteraksi dengan manusia lain dalam wujud interaksi sosial. Menurut Hermanto dan Winarno pada buku Ilmu Sosial Budaya Dasar, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial.
            Oleh karena itu, tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama-sama. Bertemunya orang-perorangan secara badaniah belaka tidak aakn menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam ini baru akan terjadi apabila orang-orang atau kelompok manusia saling bekerja sama, saling berbicara untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian, dan lain sebagainya.

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang masalah diatas adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan manusia?
2.      Apa yang dimaksud dengan manusia sebagai makhluk individu?
3.      Apa yang dimaksud dengan manusia sebagai makhluk social?
4.      Apa perbedaan antara masyarakat desa dan kota?
5.      Bagaimana peranan manusia sebagai makhluk individu dan social?
6.      Apa yang dimaksud dengan interaksi social?
7.      Apa yang dimaksud dengan dilema antara kepentingan individu dan masyaraakat?



C.    TUJUAN
Adapun tujuan  berdasarkan rumusan  masalah diatas adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian manusia.
2.      Untuk mengetahui pengertian manusia sebagai makhluk individu.
3.      Untuk mengetahui pengertian manusia sebagai makhluk social.
4.      Untuk mengetahui perbedaan antara masyarakat desa dan kota.
5.      Untuk mengetahui bagaimana peranan manusia sebagai makhluk individu dan social.
6.      Untuk mengetahui pengertian interaksi social.
7.      Untuk mengetahui maksud dari  dilema antara kepentingan individu dan masyaraakat.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DAN KONSEP MANUSIA
Manusia secara bahasa disebut juga ‘insan’ yang dalam bahasa Arabnya ‘nasiya’ yang berarti ‘lupa’ dan jika dilihat dari kata dasar ‘al-uns’ yang berarti ‘jinak’. Kata ‘insan’ dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Menurut tinjauan kefilsafatan, manusia adalah mahkluk yang bertanya, dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri.
Dalam hal ini manusia mulai tahu keberadaanya dan menyadari bahwa dirinya adalah penannya. Apabila ditinjau dari segi dayanya, maka jelaslah manusia memiliki 2 macam daya. Disatu pihak manusia memiliki daya untuk mengenal dunia rohani, yang nous, suatu daya intuitif. Dilain pihak manusia memiliki daya pengamatan (aisthesis) yang karena pengamatan langsung yang disertai dengan daya penggambara atau penggagasan menjadikan manusia memiliki pengetahuan yang berdasarkan pengamatan (Yesmil Anwar, Adang:2012:h.152-153).
Aristoteles, salah seorang murid Plato  ia berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk yamg terdiri dari tiga dimensi yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Menurut dia terdapat tiga macam jiwa yang tarafnya bertingkat tingkat. Taraf paling rendah dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan yang disebut jiwa vegetative, taraf berikutnya adalah jiwa hewan atau jiwa sensitive, dan terakhir jiwa manusia atau jiwa intelektif yang mempunyai taraf kehidupan tertinggi.
Jiwa vegetative memiliki fungsi terendah yang hanya memiliki kemampuan berikut:
·         Memperoleh dan mencerna makanan
·         Berkembang biak
Jiwa sensitive selain memiliki daya kemampuan vegetative juga memiliki kemampuan khusus sbb:
·         Bernafsu atau berperasaan
·         Dapat bergerak dari tempatnya
·         Dapat melakukan pengamatan
            Jiwa manusia atau jiwa intelektif, selain memiliki daya kemampuan yang khas baginya, juga memiliki:
·         Berkecerdasan
·         Berkemauan
            Kaum behavioris memandang manusia sebagai suatu realita. Para ahli psikologi memandang manusia sebagai makhluk psiko fisik yang memiliki watak dan kepribadian. (Syahidin:2007 hal.3)
            Sampai saat ini manusia merupakan spesies dominan dan sukses dibanding makhluk lain di muka bumi, hal ini berdasarkan pada factor penimbang seperti: 1) Bobot kepintarannya, 2) Kearifannya, 3) Aktualisasi diri dan kesombongannya. Factor yang khas membedakan manusia dengan binatang antara lain: Manusia memiliki budaya dan peradaban, manusia memiliki kapasitas berfikir sebagai konsekuensi dari susunan syaraf yang kompleks dan canggih, manusia mempunyai kemampuan mengorganisasikan istilah dan konsep-konsep yang ditransformasikan pada media simbol-simbol yang bisa meningkatkan kemampuan manusia dalam mengekspresikan fakta perasan dan mental sehingga mampu menyatakan konsep yang objektif, alternative dan selektif, dan manusia mampu menerima dan mentransfer semua pengalamannya kepada generasi berikutnya sebagai warisan social yang bias dilakukan melalui proses belajar dan dikembangkan sesuai dengan pergeseran tuntutan, ruang dan waktu. (Syahidin:2007 hal.8)
           
B.     MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU
            Secara etimologi istilah individu berasal dari bahas latin yaitu individium artinya sesuatu yang tidak terbagi atau satuan terkecil yang sangat terbatas. Secara terminologi istilah individu berarti seorang manusia yang memiliki peranan dalam lingkungan sosialnya, memiliki kepribadian dan pola tingkah laku spesifik tentang dirinya sendiri.
            Seseorang lahir merupakan satu kesatuan antara dua unsur yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Keduanya merupakan satu sitem yang terdiri dari sub-sub system yaitu: Sistem biologis dan system psikologis. Dari keduanya terdapat hubungan fungsional yang sangat erat kaitannya dimana system biologis sangat berpengaruh terhadap kondisi mental psikologis dan sebaliknya.
            Individu berkembang menjadi pribadi dan proses perkembangannya disebut “individualitas”. Individu yang baru lahir/bayi belum memiliki kepribadian, sedangkan individu yang berkembang melalui proses individualitas akan menghasilkan manusia yang memiliki kepribadian.
            Kepribadian adalah: “Keseluruhan prilaku individu sebagai hasil interaksi antara bio psikofisikal yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologinya jika mendapat rangsangan dari luar”.     Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh, factor bawaan (genotype) dan factor lingkungan fenotife). Kepribadian terbentuk oleh tiga unsure, yaitu:
1.      Hereditas, yaitu faktor keturunan.
2.      Lingkungan geografi, yaitu factor keturunan.
3.      Lingkungan social budaya, yaitu nilai nilai social budaya yang berada di sekitarnya.

C.    MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL
            Manusia sebagai makhluk individu ternyata tidak mampu hidup sendiri, dalam menjalankan kehidupannya senantiasa  akan bergantung pada orang lain. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini disebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhinya sendiri.  Untuk itu manusia juga dikatakan sebahgai mahkluk social, karena pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Manusia juga dikatakan makhluk social karena manusia tidak dapat hidup sebagai manusia apabila tidak hidup dan berada ditengah tengah manusia. (Elly.M.Setiadi,dkk:2006:hal.63-64)
            Dalam teori ilmu social individu dipahami sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki tiga aspek yang melekat pada dirinya yaitu:
a.       Aspek organik yaitu jasmani
b.      Aspek psiko yaitu rihani
c.       Aspek social yaitu kebersamaan
Ketiga aspek tersebut berfungsi secara terintegrasi antara satu sama lain. Inilah cirri manusia sebagai makhluk social. (Syahidin:2007:hal.10)
Manusia sebagai mahluk social juga dapat diartikan manusia sebagai warga masyarakat. Meskipun dia memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi, tetap saja dia membutuhkan bantuan dari manusia lain. Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lain. Bahkan sejak lahirpun manusia sudah disebut makhluk social.
Manusia dikatakan sebagai makhluk social, karena beberapa alasan:
§  Manusia tunduk pada aturan dan norma social
§  Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain
§  Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
§  Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia

1.    Manusia sebagai makhluk yang berhubungan dengan alamnya (Lingkungan hidup)
Manusia dalam melakukan hubungan sebagai makhluk sosial tidak hanya  berhubungan dengan sesama manusia saja, tetapi juga melakukan hubungan dengan lingkungan sekitarnya atau dengan alamnya.
Berkenaan hubungan antara manusia dengan alam paling tidak ada 3 paham :
a.       Faham determinasi
“Determinasi alam menempatkan manusia sebagai makhluk yang tunduk pada alam, alam sebagai faktor yang menentukan.”
b.   Faham posibilitas
“Perkembangan dan kemajuan IPTEK seolah-olah penerapan serta pemanfaatannya itu memberikan kemungkinan terhadap kemampuan manusia memanfaatkan alam lingkungannya. Sehingga pada suasana yang demikian, dapat berkembang pandangan ‘posibilisme optimis teknologi’ yang secara optimis memberikan kemungkinan kepada penerapan teknologi dalam memecahkan masalah hubungan manusia alam lingkungan.”
c.    Faham optimis teknologi
“Sekelompok manusia yang seolah-olah mendewakan teknologi, menjadikan teknologi segala-galanya. Mereka sangat optimis selama teknologi maju dan berkembang, apapun dapat dilakukan,apapun dapat menjamin kebutuhan manusia. Optimisme teknologi dapat menghasilkan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan YME.”

2.    Masyarakat dan ciri-cirinya
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi secara tetap dan memiliki kepentingan yang sama. Literratur lain memberikan pengertian tentang masyarakat sebagai sistem sosial, yaitu sebagai organisme yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung karena memiliki fungsinya masing-masing dalam keseluruhan. Pengertian lain tentang masyarakat, juga dikemukakan oleh Paul B. Horton, menurutnya masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatan kelompok itu. Pada bagian lain, Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu dengan lainnya.
            Berikut dijelaskan ciri-ciri dari konsep tentang masyarakat :
a.       Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.
b.      Bercampur atau bergaul dalam waktu cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengaturhubungan antar manusia.
c.       Sadar bahwa mereka adalah satu kesatuan.
d.      Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kabudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.
e.       Melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Menurut Krech  ciri-ciri atau unsur masyarakat adalah:
a.    Kumpulan orang
b.   Sudah terbentuk dengan lama
c.    Sudah memiliki sistem sosial atau struktur sendiri
d.   Memiliki kepercayaan,aikap dan perilaku yang dimiliki bersama
Pada konsep ini, masyarakat lebih dicirikan oleh interaksi, kegiatan,tujuan,keyakinan dan akan sejumlah manusia yang sedikit kecenderungan sama. Dengan demikian karakteristik dari masyarakat itu terutama terletak pada kelompok manusia yang bebas dan bersifat kekal, menempati kawasan tertentu, memiliki kebudayaan serta terjalin dalam suatu hubungan diantara anggota-anggotanya.  Jadi, masyarakat adalah kumpulan orang yang didalamnya hidup bersama dalam waktu yang cukup lama.
Masyarakat terbentuk  karena menusia menggunakan pikiran, perasaan, dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Hal ini didasari karena manusia memiliki dua keinginan pokok, yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan yang lainnya, dan keinginan untuk menyatu dengan lingkungan alamnya. Menusia memiliki naluri untuk selalu berhubungan dnegan sesamanya. Hubungan yang berkesinambungan tersebut menghasilkan pandangan mengenai kebaikan dan keburukan. Padangan tersebut merupakan nilai-nilai manusia yang kemudian sangat berpengaruh terhadap cara dan pola perilakunya.
            Masyarakat merupakan sebuah sistem sosial yang  didalamnya terkandung unsur-unsur yang saling berhubungan. Berikut ini dijelaskan unsur-unsur dalam sistem sosial tersebut :

a.       Kepercayaan dan pengetahuan
Perilaku anggota dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh hal yang mereka yakini dan hal yang mereka ketahui tentang kebenaran, sistem religi, dan cara-cara penyembahan kepada sang Pencipta Alam Semesta.
b.      Perasaan
Perasaan terbentuk melalui hubungan yang menghasilkan suatu kejiwaan tertentu, yang jika sampai pada saat tertentu, harus dikuasai agar tidak terjadi ketegangan jiwa yang berlebihan.
c.       Tujuan
Tujuan adalah hasil akhir atas tindakan dan perilaku seseorang yang dicapai melalui perubahan-perubahan atau dengan cara mempertahankan suatu kegiatan yang sudah mantap.
d.      Kedudukan (status) dan peran (role)
Kedudukan seseorang dalam masyarakat ditentukan berdasarkan pergaulan, prestasi, hak, dan kewajiban dalam interaksinya dengan orang lain.kedudukan menentukan sesuatu yang harus diperbuatnya bagi masyarakat dan tidak harus memiliki hirarki.
e.       Kaidah atau norma
Norma sosial merupakan patokan tingkah laku yang diwajibkan atau dibenarkan dalam siituasi tertentu dan merupakan unsur paling penting untuk meramalkan tindakan manusia dalam sistem sosial.
f.       Kekuasaan
Seorang yang memiliki kekuasaan biasanya diikuti oleh wewenang apabila kekuasaanya tersebut mendatangkan dukungan dan diakui oleh masyarakat.
g.      Sanksi
Sanksi dapat berubah hadih (reward) dan dapat pula berupa hukuman (punishment). Sanksi diberikan atau ditetapkan oleh masyarakat untuk menjaga tingkah laku para msyarakat supaya sesuai dengan norma yang berlaku.
h.      Fasilitas
Fasilitas adalah semua bentuk cara, metode, benda-benda yang digunakan manusia untuk menciptakan tujuan sistem sosial itu sendiri.



3.    Masyarakat setempat
Istilah community dapat diterjemahkan sebagai “masyarakat setempat”, istilah mana menunjuk pada warga sebuah desa,kota,suku,atau bangsa. Apabila anggota-anggota kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa,sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan hidup utama, maka kelompok tadi disebut sebagai masyarakat setempat. (Soerjono soekanto:1991:hal.162).
Dapat disimpulkan secara singkat bahwa masyarakat setempat adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan tertentu. Dimana dasar-dasar daripada masyarakat setempat adalah:
1.      Lokalitas atau adanya wilayah
Suatu masyarakat setempat yang pasti mempunyai lokalitas atau tempat tinggal tertentu. Walaupun sekelompok manusia merupakan masyarakat pengembara,akan tetapi pada saat-saat tertentu anggota-anggotanya pasti berkumpul pada suatu tempat tertentu.
2.      Perasaan saling ketergantungan atau saling membutuhkan
Perasaan bersama antara anggota masyarakat setempat tersebut diatas disebut community sentiment. Setiap community sentiment memiliki unsur :
a.       Seperasaan
b.      Sepenangungan
c.       Saling memerlukan
Dibawah ini adalah bagan perbedaan antara society dan community :
PERBEDAAN
Society (masyarakat)
Community (masyarakat setempat)
·         Bersifat umum dan lebih luas
·         Aktivitas hubungan tidak erat
·         Lebih terbatas dan juga dibatasi oleh areal kawasannya.
·         Jumlah warganya
·         Aktivitas hubungan lebih erat
·         Persatuan lebih erat
Dalam mengadakan klasifikasi masyarakat setempat, dapat digunakan 4 kriteria yang saling berpautan :
a.       Jumlah penduduk
b.      Luas,kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman
c.       Fungsi-fungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat
d.      Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan
Kriteria diatas, dapat digunakan untuk membedakan antara bermacam-macam jenis masyarakat setempat yang sederhana dan modern, serta masyarakat desa dan kota.

D.    PERBEDAAN MASYARAKAT DESA DAN KOTA
Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Masyarakat pedesaan juga ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.
Masyarakat desa ciri-cirinya:
1.      Kehidupan didesa tenang,jauh dari hiruk pikuk keramahan
2.      Penduduknya ramah-ramah,saling mengenal satu sama lain atas dasar kekeluaragaan
3.      Mata pencaharian penduduk kebanyakan sebagai petani atau nelayan
4.      Kehidupan kaum muda di desa merasa terkesan oleh adat istiadat
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community . Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
Beberapa ciri-ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:
1.      Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di desa
2.      Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain
3.      Pembagian kerja diantara warga kota juga lebih tegas dan punya batas-batas nyata
4.      Di kota tinggal orang-orang dengan aneka warna latar belakang sosial, pendidikan menyebabkan individu memperdalam suatu bidang kehidupan
5.      Khusus warga kota tidak mungkin hidup sendiri
6.      Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaannya juga lebih banyak di kota
7.      Pikiran rasional umumnya dianut masyarakat kota
8.      Jalan kehidupan yang cepat dikota mengakibatkan pentingnya faktor waktu
9.      Perubahan sosial tampak nyata dikota, karena kota terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan kota:
  • pada masyarakat kota aspek kehidupannya lebih banyak system pelapisannya dibandingkan dengandi desa.
  • pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar dan sebaliknya.
  • masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah.
  • ketentuan kasta dan contoh perilaku.

E.     PERANAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL
  Pada hakikatnya, manusia senantiasa berperan ganda, yaitu sebagai makhluk individu dan sosial. Dalam berinteraksi dengan sekitarnya, ada hubungan secara vertikal dan horizontal. (Rusmin Tumanggor:2010:hal.43)
              Manusia sebagai individu akan berusaha :
1.      Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya
2.      Mengupayakan terpenuhi hak-hak dasarnya sebagai manusia
3.      Merelialisasikan segenap potensi diri baik sisi jasmani maupun sisi rohani
4.      Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya
Manusia sebagai pribadi adalah berhakikat sosial. Artinya manusia akan senantiasa dan selalu berhubungan dengan orang lain. Kebutuhan akan orang lain dan interaksi sosial membentuk kehidupan berkelompok pada manusia. Dalam berbagai kelompok sosial ini, manusia membutuhkan norma-norma untuk mengaturnya.  Norma-norma tersebut yaitu:
1.      Norma agama atau religi
2.      Norma kesusilaan atau moral
3.      Norma kesopanan atau adat
4.      Norma hukum
Keberadaan sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia melakukan peran-peran sebagai berikut:

a.       Melakukan interaksi dengan manusia lain/kelompok
b.      Membentuk kelompok-kelompok sosial
c.       Menciptakan norma-norma sosial sebagai pengaturan tertib kehidupan kelompok
            Berdasarkan hal diatas, maka manusia sebagai makhluk sosial memiliki implikasi-implikasi sebagai berikut :
a.       Kesadaran akan ketidakberdayaan manusia bila seorang diri
b.      Kesadaran untuk senantiasa dan harus berinteraksi dengan orang lain
c.       Penghargaan akan hak-hak orang lain
d.      Ketaatan terhadap norma-norma yang berlaku

F.     INTERAKSI SOSIAL
            Interaksi sosial adalah hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antara individu antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.
           Ada beberapa faktor sebagai dasar berlangsungnya suatu proses interaksi antara lain :
1.      Faktor imitasi
      Setiap individu memiliki sifat kecenderungan untuk melakukan seperti yang dilakukan orang lain. Mengenai faktor proses imitasi ini terjadi oleh dua faktor psikis pada individu yaitu:
a.       Bahwa pada diri masing-masing terdapat minat terhadap hal-hal yang akan ditirunya, dan kemudian menimbulkan perhatian terhadap hal-hal tersebut.
b.      Bahwa pada diri masing-masing ada anggapan bahwa hal-hal yang diminatinya ada satu nilai yang berharga dan berguna bagi dirinya
2.      Faktor sugesti
Suatu proses mempengaruhi dari individu terhadap individu lain,sehingga dia dapat menerima norma atau pedoman tingkah laku tertentu tanpa melalui pertimbangan lebih dahulu.
Faktor yang dapat memungkinkan terjadinya sugesti adalah:
a.       Faktor hambatan daya kemampuan berfikir
b.      Faktor daya pikir yang terpecah-pecah
c.       Faktor penggunaan kewibawaan
d.      Faktor pengukuhan keyakinan diri
e.       Faktor pendapat mayoritas

3.      Faktor identifikasi
Suatu kecenderungan yang tanpa disadari untuk menyamakan diri atau bertingkah laku yang sama seperti yang dilakukan pihak lain. Faktor yang menyebabkan terjadinya identifikasi yaitu:
a. Awalnya tidak disadari
b.Kemudian terdapatnya suatu hubungan antara suatu motif tidak sadar dengan nilai-nilai yang menjadi sasaran identifikasi.
4.      Faktor simpati
Suatu kecenderungan sikap merasa dekat dan tertarik untuk mengadakan hubungan saling mengerti dan kerjasama dari pihak individu yang satu terhadap individu lain.
Proses simpati ini, perasaan yang memegang peranan yang penting walau dorongan utama adalah untuk memahami pihak lain dengan berbagai motivasi.
Syarat terjadinya interaksi :
a.  Adanya kontak
b. Adanya komunikasi
Kehidupan yang terasing
            Manusia sebagai makhluk sosial dapat bertahan didalam pengasingan dan sebagai sifat yang wajar manusia dalam pergaulan dengan sesamanya. Mengenai keadaan terasing ini disebabkan oleh beberapa hal :
1.      Secara badaniah seorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang lain
2.      Terasing oleh karena cacat pada salah satu inderanya
3.      Pengaruh perbedaan ras
Bentuk interaksi sosal sbb:
1.      Kerjasama (cooperation) adalah:
Suatu usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kerjasama dapat berkembang apabila;

a.       Orang dapat digerakan untuk mencapai tujuan yang sama
b.      Ada kesadaran bahwa tujuan tersebut pada waktu yang akan datang mempunyai manfaat untuk semua.
c.       Ada suasana yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas  jasa yang akan diterima.
d.      Supaya rencana kerja terlaksana dengan baik perlu adanya keahlian tertentu bagi mereka yang bekerja sama.
Bentuk kerja sama sbb:
·         Spontan
·         Langsung
·         Kontrak
·         Tradisional

2.      Persaingan (competition) adalah:
Sebagai suatu proses social, dimana individu atau kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum, dengan cara menarik perhatian public atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan rencana. Persaingan mempunyai dua tipe umum:
·         Bersifat pribadi
·         Tidak bersifat pribadi
Tipe-tipe persaingan diatas dapat menghasilkan berbagai bentuk persiapan antara lain:
a.       Persaingan Ekonimo
b.      Persaigan Kebudayaan
c.       Persaingan kedudukan dan peranan
d.      Persaingan karena perbedaan ras.
Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi sbb:
1.      Dapat menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif.
2.      Untuk mendudukan individu pada kedudukan serta peranan yang sesuai dengan kemampuannya
3.      Sebagai alat untuk menyaring warga golongan karya untunk mengadakan pembagian kerja.
Hasil suatu persaingan adalah:
a.       Perubahan kepribadian seorang.
b.      Solidaritas kelompok
c.       Disorganisasi
d.      Kemajuan


3.      Pertentangan atau pertikaian (konflik) adalah:
            Suatu proses dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan disertai ancaman dan kekerasan.
Sebab-sebab terjadinya pertikaian adalah:
1.      Perbedaan antara individu-individu
2.      Perbedaan kebudayaan
3.      Perbedaan kepentingan
4.      Perubahan social

4.      Akomodasi (accommodation) adalah:
Merupakan cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan. Tujuan akomodasi adalah sbb:
1.         Untuk mengurangi pertentangan antara individu atau kelompok sebagai akibat perbedaan paham
2.         Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu
3.         Memungkinkan asimilasi (kawin campur) karena tujuan akomodasi memungkinkan pelebunturan antara kelompok-kelompok social yang terpisah.
Bentuk-bentuk akomodasi sbb:
1.   Coerscion
     Prosesnya dilaksanakan oleh karena paksaan misalnya salah satu lemah.
     Contoh: Perbudakan
2.   Compromise
    Pihak-pihak yang terlibat langsung mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian perselisihan.
3.   Arbitration:
    Suatu cara untuk mencapai compromise, bila pihak-pihak yang bertentangan tidak bias menyelesaikan sendiri.
4.   Mediation (mirip arbitation):
    Tapi pada mediation pihak ketiga netral, diundang dalam perselisihan yang ada, pihak ketiga sebagai penasehat, penyelesaian secara damai.
5.   Concliation
    Usaha-usaha untuk mempertemukan pihak-pihak yang berselisih dalam mencapai suatu tujuan bersama
6.   Toleration
     Bentuk akomodasi yang tidak resmi, kadang-kadang timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan.
7.   Stalemate
     Dalam melakukan pertentangan para pihak berhenti pada suatu titik tertentu, karena sadar bahwa kekuatannya seimbang dan tak mungkin lagi maju atau mundur.
8.   Adjudication
    Penyelesaian perselisihan di pengadilan.
5.   Asimilasi adalah:
              Suatu proses social dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara individu atau kelompok dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.
Bentuk-bentuk interaksi social yang member arah kesuatu proses asimilasi:
1.   Interaksi social tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadu juga berlaku sama.
2.   Interaksi social tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan.
3.   Proses asimilasi dipercepatm apabila interaksi social tsb bersifat langsung dan primer.
Faktor yang dapat mempermudah terjadinya asimilasi sbb:
1.   Toleransi
2.   Kesempatan-kesempatan dibidang ekonomi yang seimbang.
3.   Suatu sikap menghargai orang asing dan kebudayaan.
4.   Sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
5.   Persamaan dalam unsure-unsur kebudayaan
6.   Perwakilan campuran
7.   Adanya musuh bersama dari luar
Faktor-faktor yang menghalang-halangi terjadinya asimilasi adalah:
1.   Kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat terisolir
2.   Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi.
3.   Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
4.   Adanya in-group feeling yang kuat
5.   Apabila golongan minoritas mengalami gangguan golongan yang berkuasa
6.   Perbedaan kepentingan dan pertentangan pribadi
6.      Akulturasi adalah:
             Merupakan proses dimana suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu. Dihadapkan pada unsure-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Beberapa masalah yang menyangkut proses akulturasi tersebut adalah:
1.      Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sudah diterima
2.      Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima.
3.      Individu-individu manakan yang cepat menerima unsur-unsur yang baru.
4.      Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul akibat akulturasi
Unsur kebudayaan yang mudah diterima adalah:
1.      Unsur kebudayaan kebendaan
2.      Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar.
3.      Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut
Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh sesuatu masyarakat adalah:
1.      Unsur yang menyangkut system kepercayaan
2.      Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf proses sosialisasi.

G.    DILEMA ANTARA KEPENTINGAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT
Dilema antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat adalah pada pertanyaan mana yang harus saya utamakan, kepentingan saya selaku individu atau kepentingan masyarakat tempat saya hidup bersama? Persoalan pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang menjadi paham/aliran bahkan ideologi  yang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat.
1.      Pandangan Individualisme
Individualisme berpangkal dari konsep bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk individu yang bebas. Paham ini memandang manusia sebagai makhluk pribadi yang utuh dan lengkap terlepas dari manusia yang lain.
  Paham individualism liberal muncul di Eropa Barat (bersama paham sosialisme) pada abad ke 18-19. Yang dipelopori oleh Jeremy Betham, John Stuart Mill, Thomas hobben, John Locke. Beberapa prinsip yang dikembangkan ideology liberalism adalah sebagai berikut.
a.       Penjamin hak milik perorangan. Menurut paham ini, pemilikan sepenuh nya berada pada pribadi dan tidak berlaku hal milik berfungsi lain
b.      Mementingkan diri sendiri atau kepentingan individu yang bersangkutan.
c.       Pemberian kebebasan penuh pada individu
d.      Persaingan bebes untuk mencapai kepentigan nya masing-masing.

2.      Pandangan Sosialisme
Sosialisme adalah paham yang mengharapkan terbentuknya masyarakat yang adil selaras, bebas, dan sejahtera bebas dari penguasaan individu atau hak milik dan alat-alat produksi. Sosialisme muncul dengan maksud kepentingan masyarakat secara keseluruhan terutama yang tersisih oleh system liberalisme, mendapat keadilan, kebebasanm dan kesejahteraan. Dalam sosialisme yang radikal/ekstem (marxisme/komunisme) cara untuk meraih hal itu adalah dengan menghilangkan hal pemilikan dan penguasaan alat-alat produksi oleh perorangan. Paham marxisme/komunisme dipelopori oleh Karl Marx (1818-1883).
Paham individualisme liberal dan sosialisme saling bertolak belakang dalam memandang hakikat manusia. Dari kedua paham tersebut terdapat kelemahannya masing-masing individualism liberal dapat menimbulkan ketidakadilan, berbagai bentuk tindakan tidak manusiawi, imperialism, dan kolonialisme liberalism, mungkin membawa manfaat bagi kehidupan politik, tetapi tidak dalam lapangan ekonomi dan social.














BAB III
KESIMPULAN


Secara ethilogi istilah individu berasal dari bahasa latin yaitu: individium artinya sesuatu yang tidak terbagi atau satuan terkecil yang sangat terbatas. Secara Terminologi istilah individu berarti seorang manusia yang memiliki peranan dalam lingkungan sosialnya, memiliki kepribadian dan pola tingkah laku spesifik tentang dirinya sendiri.
Kata individu bukan berarti manusia secara keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan terbatas, yaitu perseorangan manusia yang mana ini adalah menurut pendapatnya Dr.A.Lysen
Manusia sebagai individu ternyata tidak mampu hidup sendiri. Ia dalam menjalani kehidupannya akan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lain. Hal ini disebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhinya sendiri. Ia akan bergabung dengan manusia-manusia lain membentuk kelompok-kelompok dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup. Dalam hal ini manusia sebagai individu memasuki kehidupan bersama dengan individu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA




Tim Dosen ISBD (2012). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Unit Pelaksana Teknis UPT MKU.   Jakarta





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar